AyoSumbar.id

Berita Sumbar Terbaru Hari Ini

tema pers publik
12,285 view

Teknik Pengeringan Kopi di Garut Menarik Perhatian Gubernur Sumbar

Gambar yang menggambarkan momen bersejarah terkait Teknik Pengeringan Kopi, energi terbarukan, proses pengeringan kopi.
Gubernur Sumbar, Mahyeldi Ansharullah, saat melihat langsung alat pengeringan Kopi Kamojang yang memanfaatkan energi panas bumi di Kabupaten Garut. (Foto: Biro Adpim Sumbar)

Garut, AyoSumbar.id – Teknik pengeringan kopi dengan pemanfaatan uap panas bumi menarik perhatian Gubernur Sumbar, Mahyeldi Ansharullah, saat berkunjung ke Kabupaten Garut, Provinsi Jawa Barat, Jumat (18/7/2025).

Dalam acara Panen Bersama dan Pelepasan Ekspor Kopi Kamojang yang digelar PT Pertamina Geothermal Energy (PGE), Mahyeldi menilai penerapan energi terbarukan di sektor pertanian kopi sebagai langkah strategis menuju ekonomi hijau yang berkelanjutan.

“PGE telah menunjukkan bagaimana energi panas bumi tidak hanya menghasilkan listrik, tetapi juga mampu mendorong produktivitas dan kesejahteraan petani. Ini praktik baik yang patut ditiru,” ujar Mahyeldi usai meninjau rumah pengering kopi berbasis geothermal.

Acara yang berlangsung di area Geothermal Kamojang itu turut dihadiri Dirjen Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM, Direktur Utama PGE, jajaran Pertamina Group, serta para petani kopi binaan yang tergabung dalam ekosistem Canaya Geothermal Coffee.

Mahyeldi menyampaikan apresiasi atas inovasi yang dilakukan PGE dalam memanfaatkan uap panas bumi untuk proses pengeringan kopi. Menurutnya, metode ini bukan hanya efisien dan ramah lingkungan, tetapi juga mampu menjaga kualitas rasa sekaligus menekan emisi karbon.

“Model seperti ini membuka peluang besar bagi daerah yang memiliki potensi panas bumi seperti Sumbar. Kami siap belajar dan berkolaborasi,” tegas Mahyeldi.

Diketahui, kopi Kamojang yang diproses melalui rumah pengering geothermal milik PLTP Kamojang telah berhasil menembus pasar Asia dan Eropa. Tak hanya menawarkan cita rasa khas, kopi ini juga membawa nilai tambah karena diproduksi dengan prinsip energi bersih.

Data dari PGE menunjukkan, teknologi ini mampu mengurangi emisi karbon dioksida ekuivalen (CO2e) hingga 4 ton per tahun, meningkatkan efisiensi produksi, serta menambah pendapatan petani hingga Rp180 juta setiap tahun.

Dampak ekonomi dan lingkungan inilah yang kemudian membuat Mahyeldi ingin mengadopsi teknik pengeringan kopi tersebut untuk sejumlah wilayah Sumbar seperti Solok Selatan, Pasaman, dan Agam.

“Jika kita bisa memadukan energi bersih dengan pemberdayaan masyarakat, maka kita tidak hanya berbicara tentang transisi energi, tapi juga transformasi sosial,” katanya.

Kegiatan ditutup dengan seremoni panen bersama, pelepasan kontainer ekspor kopi ke pasar internasional, dan kunjungan lapangan ke fasilitas pengolahan kopi geothermal.

Momen ini menegaskan peran PGE sebagai pelopor pemanfaatan energi panas bumi untuk sektor non-listrik yang berdampak langsung pada kesejahteraan masyarakat.

“Kopi Kamojang telah membuktikan bahwa energi terbarukan bisa menjadi bagian integral dari ekonomi lokal yang inklusif. Sumbar siap menjadi bagian dari gerakan ini,” tutup Mahyeldi optimistis. (*)

Avatar of Aprizal Noer
M Afif Azari
Penulis
Aprizal Noer
Editor
Exit mobile version