AyoSumbar.id

Berita Sumbar Terbaru Hari Ini

tema pers publik
3,878 view

URI Pengakuan Telanjang Kegagalan Pendidikan Tinggi Indonesia

Dokumentasi situasi terkini terkait isu URI.
Ilustrasi Universitas Republik Indonesia (URI), menampilkan gedung utama, area akademik yang modern, serta aktivitas mahasiswa di lingkungan kampus. Gambar ini menggambarkan wacana pembangunan institusi pendidikan tinggi baru yang ditujukan untuk membentuk kepemimpinan di Indonesia. (Gambar dibuat dengan AI ChatGPT)

Pendirian Universitas Republik Indonesia (URI) oleh Presiden Prabowo Subianto pada Juli 2026 bukanlah terobosan visioner semata. Ia adalah pengakuan tidak langsung, namun sangat jelas bahwa sistem pendidikan tinggi formal Indonesia telah gagal menjalankan tugas utamanya, yaitu untuk menghasilkan pemimpin yang kompeten, berintegritas, dan berwawasan kebangsaan. Alih-alih memperbaiki akar masalah di ribuan perguruan tinggi yang ada, pemerintah memilih menciptakan jalur elit baru yang dibiayai penuh APBN, meniru model yang di negara asalnya sudah dibuktikan bermasalah.

URI dirancang sebagai lembaga pendidikan kedinasan khusus untuk mencetak calon pemimpin pemerintahan, ASN, dan BUMN. Kampus utamanya direncanakan dibangun di kawasan Cikasungka, Bogor Utara, di atas lahan bekas perkebunan sawit milik PTPN yang sudah tidak produktif. Pemerintah menargetkan pembangunan 10 kampus secara bertahap. Saat ini, seluruh kegiatan masih bersifat sementara dan berlangsung di Gedung Kementerian BUMN, Jakarta.

Program Presiden untuk Pemimpin Masa Depan (P3MD) sudah berjalan sejak Mei 2026. Angkatan pertama diikuti sekitar 399–439 orang, mayoritas pegawai baru BUMN. Peserta mendapat pengarahan langsung dari Presiden Prabowo di Hambalang dan melibatkan kerja sama dengan Danantara. Struktur formal menempatkan Gubernur URI sebagai pengendali Badan Pengelola Pendidikan Kebangsaan (BPPK), yang akan mengoordinasikan Sekolah Unggulan Garuda, pengelolaan perguruan tinggi khusus, serta Lembaga Administrasi Negara (LAN).

Gubernur URI, Marsekal TNI (Purn) Donny Ermawan Taufanto, tetap merangkap jabatan sebagai Wakil Menteri Pertahanan. Kombinasi ini menimbulkan pertanyaan serius tentang independensi lembaga dan potensi benturan kepentingan antara pendekatan militer dan pengembangan kepemimpinan sipil.

Bukti Kegagalan Sistem yang Tak Bisa Disembunyikan

QS World University Rankings 2027 (rilis Juni 2026) memperlihatkan gambaran yang memprihatinkan. Universitas Indonesia (UI) berada di peringkat sekitar 191 dunia, Universitas Gadjah Mada (UGM) di peringkat 206 (naik 18 peringkat), dan Universitas Airlangga (Unair) di peringkat 276. Hanya segelintir perguruan tinggi Indonesia yang berhasil masuk 300 besar dunia. Sebagian besar PTN dan PTS bahkan berada jauh di luar 1.000 besar.

Fakta ini menjadi indikator keras bahwa sistem pendidikan tinggi formal masih tertinggal dalam daya saing global, reputasi akademik, dan kualitas riset. Padahal jumlah perguruan tinggi di Indonesia sudah melebihi 4.000 lembaga. Masalahnya bukan kuantitas, melainkan ketimpangan kualitas yang ekstrem, tata kelola yang lemah, politisasi internal, rendahnya produktivitas riset, dan minimnya kompetisi akademik yang sehat.

Kritik lama terhadap Dirjen Dikti dan struktur penggantinya adalah fokus yang terlalu administratif dan kuantitatif, yaitu jumlah lulusan, akreditasi formal, sementara pembentukan karakter kepemimpinan dan keunggulan substansial sering terabaikan.

Meniru Model yang Sudah Gagal

Pemerintah secara terbuka menyatakan URI diinspirasi dari École nationale d’administration (ENA) Prancis. Padahal ENA justru menjadi studi kasus klasik tentang bahaya lembaga pendidikan kepemimpinan yang terlalu eksklusif.

Data historis ENA menunjukkan penurunan drastis proporsi mahasiswa dari kelas pekerja, yaitu 29 persen pada 1995, turun menjadi 9 persen pada 2003, dan hanya 3–4 persen pada 2013. Mahasiswa dari keluarga profesional berpenghasilan tinggi memiliki kemungkinan 12 kali lebih besar untuk masuk ENA dibandingkan mereka yang berasal dari latar belakang ekonomi rendah. Lembaga ini dikritik keras karena menghasilkan kelompok elit yang homogen, terjebak groupthink, terputus dari realitas masyarakat, dan mendominasi posisi strategis di pemerintahan, BUMN, serta sektor swasta Prancis.

Presiden Emmanuel Macron, yang sendiri lulusan ENA, memutuskan membubarkan lembaga tersebut per 31 Desember 2021 dan menggantinya dengan Institut national du service public (INSP). Keputusan itu merupakan respons atas kritik elitism yang memuncak setelah gerakan Rompi Kuning. Indonesia justru meniru model yang negara asalnya sudah tinggalkan karena dianggap gagal menciptakan mobilitas sosial dan menghasilkan pemimpin yang terhubung dengan rakyat.

Reproduksi Elit dan Isomorfisme Institusional

Dari perspektif Pierre Bourdieu, pendidikan tinggi selalu menjadi arena reproduksi modal budaya dan modal sosial (Bourdieu, 2018). URI, dengan seleksi terbatas, pembiayaan penuh APBN, dan jalur karier yang terintegrasi langsung ke pemerintahan serta BUMN, justru memperkuat mekanisme reproduksi elit.

Avatar of Ruben Cornelius Siagian
Avatar of Aris Prima Gunawan
Ruben Cornelius Siagian
Penulis
Aris Prima Gunawan
Editor
Exit mobile version