AyoSumbar.id

Berita Sumbar Terbaru Hari Ini

tema pers publik
3,227 view

Wali Nagari Baru Saatnya Membuktikan Janji, Bukan Sekadar Wacana

Perkembangan terbaru mengenai Wali nagari baru yang menjadi sorotan publik.
Ilustrasi yang menggambarkan momen pascapemilihan Wali Nagari yang telah terpilih dan tengah menunggu pelantikan. Sosok pemimpin baru ditampilkan sebagai simbol harapan dan tanggung jawab baru masyarakat nagari, diiringi suasana kebersamaan warga yang mencerminkan semangat persatuan, serta tantangan untuk menepati janji-janji kampanye dan menjaga nilai adat serta budaya Minangkabau dalam pemerintahan nagari. (Gambar dibuat dengan ChatGPT)

Wali nagari baru telah terpilih. Kini tinggal menunggu prosesi pelantikan sebelum benar-benar menjalankan amanah sebagai pemimpin di tingkat nagari. Momentum ini menjadi awal baru bagi harapan masyarakat, sekaligus ujian pertama bagi komitmen untuk merealisasikan janji-janji yang telah diucapkan selama masa kampanye.

PEMILIHAN wali nagari telah selesai, dan telah diketahui siapa yang terpilih. Sekarang hanya menunggu pelantikan resmi saja. Ada yang menang dengan manyerak an Budi selama ini, karena budi baik tersebut orang terpikat untuk memilih. Ada juga mungkin oknum menang karena umpan serak, serupa kantuik dia terbaun dan terdengar tapi dicari tidak bertemu. Ya sudahlah, mudah-mudahan ada kebaikan yang tercipta.

Bagi yang selama ini biasa memanggil nama kepada yang terpilih, ada baiknya di aja-aja memanggil “wali” atau Pak wali. Ketek banamo gadang bagala, biasa saja walaupun yang terpilih kecil secara usia, namun beliau telah memenangi kontestasi di tingkat nagari.

Pekerjaan mendesak bagi yang menang sekarang menjadi seumpama paruh di ayam. Jika bulunya kusut atau cabiak, maka paruh yang menata agar licin kembali. Sehingga ada istilah cabiak-cabiak bulu ayam. Dek paruah bersatu kembali.

Saatnya masyarakat nagari bersatu untuk membangun ke yang lebih baik. Jika yang menang bukan pilihan kita, yang terpilih kan masih orang senagari dengan kita. Lagian kita diciptakan sang khalik di muka bumi untuk saling mengenal dan bertolong tolongan dalam kebaikan.

Pemenang terpilih diharapkan membuat strategi agar janji-janji selama kampanye bisa diwujudkan. Jika janji kampanye tidak terlaksana itulah wali yang gagal nantinya. Perlu juga kiranya pemimpin baru mengevaluasi SDM yang ada di kantor untuk menunjang pekerjaannya. Jika ada aturan tidak boleh asal copot pada perangkat, tentu ada juga aturan yang membolehkan mencopot perangkat.

Apabila uang dari negara telah  dimakan sesuai ketentuan yang dibolehkan, maka sudah sepatutnya insan tersebut berjalan sesuai tuntutan dari pemberinya upah. Diharapkan loyal dan tidak tersinggung bila ada kritik, sebab itulah guna mereka digaji. Jika ada yang menimpal “oh gaji saya kecil” itu urusan lain.

Keistimewaan Pemerintahan Nagari

Menurut hemat penulis, ada keistimewaan pada pemerintahan nagari. Selain mengurus administrasi tingkat terendah di pemerintahan, juga insan yang bekerja di kenagarian dikungkung adat dan budaya di tempat tersebut. Kurang sasayik sabalango bila SDM yang bekerja di kantor wali tidak ikut memupuk nilai-nilai adat di suatu wilayah.

Jika ada oknum wali nagari yang melanggar, mungkin mulut warganya tak akan segan melontarkan wali Ndak baradaik atau tak tahu Jo adaik. Sudah sewajarnya, sebab Minangkabau adalah nagari yang beradat. Nantinya akan melahirkan berjibun manifestasi tentang adat tersebut. Ini boleh, itu tidak, ini sumbang, itu buruak cando. Itulah adat, yang selalu beriringan dengan raso dan pareso.

Pemberian keistimewaan dari pemerintah pusat ke Provinsi Sumatera barat merupakan berkah tersendiri. Pemimpin akan bisa mengkolaborasikan nilai-nilai adat dalam lingkup pemerintahan yang dinaunginya. Dari nagari diharapkan lahir semacam tunas-tunas muda sebagai pagar kebudayaan suatu tempat. Dari keistimewaan ini tidak menutup kemungkinan nantinya akan terlahir Daerah Istimewa untuk Provinsi ini.

Jika di Minangkabau terkenal dengan selogan adat basandi syarak, syarak basandi kitabullah, pemerintahan nagari bisa melebur dan berperan penting dalam hal itu. Sudah sepatutnya  beserta KAN yang mempunyai kedudukan bisa dikatakan sama, merumuskan nilai-nilai adat untuk membangun generasi selanjutnya.

Atau nagari bersama Bamusnya merumuskan peraturan nagari mengaji. Jangan sampai ada anak nagari yang tidak bisa membaca Alquran. Nagari bisa memfasilitasi lewat honor guru yang dianggap kompeten melalui seleksi terbuka untuk masyarakat. Dana untuk itu tentu ada, Jangan berdalih dana dipotong pusat.

Jangan sekali-kali ada terbesit niat membuat pengeluaran ntah-ntaha. Adakah demikian? Sebagai yang sama-sama iduik di sebuah nagari, sama punya mata dan punya telinga. Tidak ingin rasanya lidah menjadi lampu sorot untuk menyigi, tapi janganlah diulangi. Kadang ba a lah tapi entahlah.

Avatar of Irwandi Sikumbang
Avatar of TimAS
Irwandi Sikumbang
Penulis
TimAS
Editor
Exit mobile version